BUI
Rasanya sudah
tak saling menyapa, memang aku yang terlalu kaku untuk bertanya bagaimana
kabarmu atau mungkin kamu yang selalu menghindar agar tidak lagi merasa
sendirian. Sayangnya, kalimat itu hanya sampai di lidah tak sampai di sabda
Rupanya sudah
tak saling peduli, memang aku yang tak mau tau atau mungkin kamu sudah
menemukan rumah yang baru. Sayangnya, rangkaian kata tak membuatmu merasa tergugah
apalagi merasakan yang sama
Jiwanya sempat
terbelah bimbang mau ke arah mana, resiko besar telah menantinya. Tapi
tampaknya, dia memilih aman untuk menunggu meskipun dia tau waktu tidak akan
bisa diadu
Duduklah dia
menghadap rembulan, menyambut para bintang, dikepalah tangannya seraya menutup
mata lalu meminta kepada sang kuasa
Mana mungkin
rumah bisa beratap jika tak ada pondasi, maka dibangunlah kepercayaan diatas
kemunafikan yang dia lontarkan di awal perkenalan, jatuh bangun dia rasakan
Dan sekarang,
persilahkan aku untuk masuk mengambil beban yang telah kamu tumpuk agar nanti
jika kita tidak dipersatukan maka tidak akan ada kenangan yang bisa melukai
siapapun setelah aku dan damai akan terus bersamamu kecuali kamu memanggilku.
Comments
Post a Comment