Berawal dari sebuah kisah tanpa rasa.

Berawal dari sebuah kisah tanpa rasa.

Secangkir teh pagi ini mengingatkanku dengan seseorang yang selama ini aku anggap sebagai L-theanine, suatu zat yang dapat memperkuat imun tubuh. Kuharap kamu membacanya dengan senyuman, duduk di sudut ruangan, menyilangkan kaki dan meneguk secangkir kopi dengan hangatnya perasaan dan tangan yang sama rasanya seperti dulu kugenggam. Bukan untuk mengakhiri, meskipun aku tau ketika kamu pergi kamu tak akan kembali. Atau mungkin, kamu datang dengan harapan kemudian meninggalkan. Terkesan jahat memang, karena aku rasa ketika hidup tanpa drama semuanya tampak biasa saja.

Beribu mil jarak kita sekarang, sangat jauh ketika aku mencoba menghitung dengan rasi bintang. “Kenapa tidak berhenti jika kamu merasa disakiti?” atau “tidak usah di nanti, karena yang pasti akan kembali” sungguh kenyang dengan banyak ocehan. Pada suatu ketika, aku percaya bahwa kamu akan datang dengan segenggam kerinduan yang kamu coba ungkapkan lewat pelukan, dan pada saat itu aku mulai merasakan kebahagiaan, atau mungkin sebuah penyesalan.

Di tempat ini, aku mencoba mengingat kembali, bagaimana dulu kita di persatukan dengan perjuanganku sendirian sampai aku menyerah dalam keheningan dan kamu mulai tersadar bahwa aku masih menunggu di luar dengan segenggam harapan. Kemudian, kamu memberikan celah agar aku dapat masuk ke dalam menghangatkan ragaku dari dinginnya malam.

Perjalanan kita telah sampai pada ujungnya, setelah kita melewati banyak halangan, bahkan doa dan usaha tidak cukup untuk menakhlukan. Kamu tidak perlu datang untuk menjemputku pulang, karena setelah melewati banyak rintangan akhirnya aku sadar, bahwa yang berarti bukanlah penantian, tetapi memafkan. Dan benar kata Fiersa Besari dalam bukunya yang berjudul Garis Waktu, “perasaan kita untuk satu sama lain tidaklah mati, ia hanya bermetamorfosis menjadi sesuatu yang jauh lebih indah. Dan kini, kita sudah siap mengukir kisah indah kita masing-masing; siap untuk menghadapi hidup yang semakin berat dengan diri yang semakin kuat.”

Karena rindu bukan berarti harus bertemu dan pulang bukan berarti harus mengulang.
Terimakasih sayang, karena saat ini aku memikirkanmu tidak berlebihan. Dan perlahan semuanya akan terlupakan. 

Comments

Popular Posts