Pilu Dahulu

Sayang, keluarlah, langit malam ini sungguh luar biasa, apakah kamu melihat bintang yang paling bersinar di baris pertama? Ceritakanlah, maka aku akan bahagia. Aku ingin berbicara denganmu tentang kita yang tak kunjung bertemu. Bagaimana? Apa kamu masih di situ? Atau malah berlari membawa pilu?

Lalu, aku ingin bertanya sesuatu. apa yang kamu tau tentang perempuan dibalik kelambu? Bukannya semua itu tertutup debu? Bahkan membuka pun kamu tak akan mampu. Tetaplah seperti itu, merahasiakanku demi kebahagiaanmu.

Terlihat klise ketika alasan di pertaruhkan, perlahan kau telan aku dengan harapan. Apa yang harus di paksakan? Bahkan pengorbanan pun tak kau hiraukan, diam.

Kembali aku menyuruhmu pergi, jauh sampai tak terlihat dalam diri, berkelana dengan naluri yang kau yakini dan jangan kembalikan memori yang tak berarti, cukup kubilang.

Teh yang kau seduh tidak akan sama rasanya ketika kau jatuh, terhempas, bebas.

Dan, hei, ingatkah kamu sudah berapa lama aku disini? Terlampau jauh, sungguh rapuh. Tangan kakipun menolak berbicara, karena mereka tau bahwa belum saatnya. Sama seperti aku yang menolak untuk menyerah, karena aku tau yang indah akan perlahan musnah.

Jangan biarkan diriku tersipu membisu, jangan biarkan dirimu terus membohongiku, sungguh tak pantas ketika semuanya tak terbalas, membekas.

Angin mengarah kencang menerpa ranting, bahkan diriku sudah tidak penting. Aku akan membuatmu paham makna perpisahan, bukan siapa yang menang dan bukan siapa yang terdampar cukup dalam, tetapi pergi tanpa paksaan dengan sebuah keputusan tanpa ada penyesalan. Aku maafkan.


Comments

Popular Posts