Tentang Seseorang
Untukmu yang setia membaca tulisanku
Lampu sorot kota itu terpancar
sunyi malam ini, tidak ada maaf dan percakapan yang berarti, tidak ada
toleransi kembali. Dengan sekuat tenaga, ku yakinkan bahwa tidak ada yang
berubah, semua hanya sementara awalnya, begitu ku rasa. Bagaimana bisa mengatakan
jika mulut ini digenggam, dan terpaksa diam, diam dalam sebuah perasaan yang
kelam bercampur kesedihan.
Tidak usah merasa sungkan untuk mengungkapkan
sebuah kekecewaan, karena aku pun pernah merasakan. Sempat ku berkata kepadamu
semua akan baik-baik saja, tapi keadaan memang tidak berpihak sekarang,
membuatmu tetap merasa tidak tenang. Memang maafku tidak cukup untuk menutup
semua kesalahan, tapi setidaknya aku bukan pengecut yang selalu bersembunyi di
balik harapan.
Begini, bukan masalah di cinta
atau mencinta, di rindu atau merindu, bahkan di pisah atau berpisah. Ini masalah
rasa, seperti ice cube pada secangkir matchalattemu, dingin, tapi berakhir hambar,
tidak manis, dan tidak habis, tanpa penyesalan cangkir itu ditinggal sendirian.
Dimanakah tuan? Sama kan seperti yang kamu bilang, memilih dan dipilih itu
wajar, hanya soal perasaan gampang, yang tidak lama mungkin sudah usang.
Disini aku memulai, bukan
pengorbanan atau rengekan agar kamu berputar arah, bukan. Aku hanya ingin
bercerita tentang takaran penyesalan dengan kejamnya kekecewaan, maaf, maaf dan
maaf. Sekarang ku persilahkan kamu untuk berlari, sejauh mungkin, dan di sini
aku hanya yakin bahwa takdir akan membawa sebuah jawaban, memaafkan dari yang
tidak bisa dimaafkan, dan melupakan dari yang sudah pernah terlupakan, kemudian
mengambil suatu kesempatan, untuk kembali pulang.
Tidak akan ada akhir tanpa sebuah awalan, dan tidak akan ada cerita jika tidak di mulai dengan perasaan, karena berakhir untuk memulai cerita adalah perihal rasa tanpa sebuah asa.
Comments
Post a Comment