KALA


Kala itu setelah ku memutuskan membuka lembaran baru.

      Gemuruh angin membawaku kembali tuk mengukir kisah tak bertuan, menghibur dirinya yang katanya terpuruk lapuk . Seperti senja yang digembor-gemborkan memiliki rona yang indah, maka tak ada yang tau kemana cahaya langit itu setelah pukul 6. Berganti dengan malam bertabur bintang kemudian bergantilah fajar. Sinar matahari menampakan diri, tanpa rasa bersalah mengganti seluruh posisi. Begitulah katanya, sama seperti bayangannya, dan segelintir imajinasinya, sehingga membuatku terdiam memandanginya, dalam hangat pelukannya.

       “Jika kamu ingin kembali, aku akan berhenti. Masih ada waktu untuk kita sudahi,” tuturnya. Bagaikan bunga tanpa akar, tak ada yang menompang. Kita lupakan sejenak yang dahulu, karena sejak saat itu, kabarnya tak lagi ku tunggu. Ditemukannya serpihan kertas usang yang tak asing, pernah kumiliki tuannya dan segala kenangannya.

        Tak adil rasanya jika ku ceritakan dua insan dalam satu kicauan, maka ku pilih dia yang duduk bersamaku saat ini. Tak lagi ku memaksakan diri untuk mencintai, apalagi membenci. Karena bahagianya alami, tidak berlebih. Dia tak suka ketinggian, karena menurutnya itu melelahkan. Lautpun katanya menegangkan. Dia mengajakku di tengah persinggahan, dimana aku bisa melihat gagahnya gunung dan luasnya lautan, karena dia tau aku tak bisa memilih untuk mencintai. Dia bisa membuatku bernyanyi dan menari hanya dalam 1 kata, menangis dan bahagia hanya dalam 1 bahasa. Tangan dinginnya selalu menuntunku untuk melihat realita, yang indahnya hanya sementara, dan tak lupa jua dirinya mengenalkanku pada sebuah fakta, fakta yang dia percaya apa yang dia jaga tak mutlak untuk selamanya.

        Kini aku mengerti, untuk apa aku merangkak. Aku belajar menulis, karena tau dia suka membaca. Kemudian ku pilih hitam dan putih, karena tau warna tak begitu indah baginya. Tak melulu dia yang mengalah hanya untuk membuatku bahagia, akan ada waktunya mimpi kita menjadi nyata. 

Comments

Popular Posts