Aram Temaram
Duduklah dia diatas batu besar, melihat ke atas dan menanti fajar berganti. Sambil di bawanya memori-memori yang tersimpan rapi di dalam kotak dalam genggaman tangannya, sesekali menutup mata seraya berbisik kepada alam. Kala rumpang yang dia rasakan tak kunjung pulang.
Hembusan nafasnya mengarahkanku kepada sobekan kertas diantara tumpukan kenangan, sendu yang mengantarkan rindu. Dan terbukalah mata dengan setetes pilu, ternyata air mata perlahan jatuh. Kesal ku dibuatnya, bosan ku didekapnya, lalu apa yang membuatku lumpuh? Apa angan-angan tentang masa depan? Atau iming-iming kebahagiaan? Konyol, tidak ada kebebasan.
Mata indahmu melukiskan sosok perempuan yang dikemas dalam sebuah pertemanan, yang selalu terabaikan, acuh tanpa keadilan. Lampu kota menghiasi malam, hingga rembulan lupa akan tugasnya, ibarat dia telah lupa akan janji manisnya. Berhenti mengeluh, jangan selalu cemburu, tapi kalau sudah acuh, mundur adalah jalan nomer satu, apakah begitu? Pikir bagaimana nasib wanitamu, jika yang lalu saja belum sempat usai karena waktu.
Comments
Post a Comment